Sesuai arahan Gurunda kita Al-Ustadz Abu Umar Andri Maadsa, sebagai bentuk pemuliaan kepada guru, agar kita melayani dan menemani dengan sepenuh jiwa ketika guru kita Al-Ustadz Abul Fida Sa'id Ruslan berada di Bandung. Alhamdulillah, kami, tim Markaz Ilmu, diberi kesempatan untuk mengemban amanah ini dengan sebaik-baiknya.
Berbagai faedah kita dapatkan dari kedua guru kita ini hafizhahumallahu ta'ala. Bagaimana keduanya memiliki adab yang mulia dan pengagungan terhadap ilmu yang sangat tinggi. Sehingga waktu berbincang santai pun, bukan hanya candaan ringan saja, tapi selalu ada nasihat, faedah, dan motivasi yang sangat bermanfaat, terkhusus bagi kami.
Sehingga malam-malam tersebut menjadi malam yang sangat membekas bagi diri kami, baik secara pribadi maupun bagi tim Markaz Ilmu pada umumnya.
Termasuk nasihat singkat yang sangat mendalam dan membekas pada kami bertiga (Abu Syakir, Abu Atirah, Abu Ubaidillah), dari Gurunda Al-Ustadz Abul Fida Sa'id Ruslan yang kami dapatkan secara khusus ketika kami sedang menyantap hidangan sahur.
Karena indahnya nasihat ini, penting untuk kami sampaikan kepada sahabat Markaz Ilmu lainnya. Kami berusaha merangkum nasihat beliau yang sebenarnya sulit untuk kami tuangkan dalam tulisan, karena pada malam itu kami bertiga hanya terdiam, tertunduk, dan menahan tangis agar tidak keluar.
Semoga Allah Ta'ala menjaga guru-guru kita, meninggikan derajat mereka, dan melindungi mereka tetap istiqamah di atas jalan yang haq.
Beliau hafizhullahu mengawali nasihat kepada kami untuk senantiasa bersabar terhadap segala ujian dan cobaan yang Allah Ta'ala timpakan kepada kita semua.
Allah Ta'ala berfirman:
وَٱلصَّٰبِرِينَ فِى ٱلْبَأْسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَحِينَ ٱلْبَأْسِ ۗ أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ ۖ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُتَّقُونَ
“Dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan, mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 177)
Kefakiran, penyakit, kehilangan, kesulitan, dan berbagai ujian lainnya merupakan bagian dari kehidupan yang pasti akan kita lalui. Seorang mukmin tidak akan terlepas dari ujian. Maka, kesabaran dalam menghadapi ujian menjadi salah satu bukti keimanan seorang hamba.
Bersabar bukan berarti tidak merasakan kesedihan atau kesulitan. Akan tetapi, sabar adalah bagaimana seorang hamba tetap menjaga dirinya untuk tidak melakukan sesuatu yang Allah Ta'ala murkai ketika menghadapi ujian.
Allah Ta'ala memberikan banyak contoh tentang kesabaran orang-orang saleh terdahulu. Di antaranya adalah Nabi Ayyub 'alaihissalam yang diuji dengan berbagai macam musibah.
Allah Ta'ala berfirman:
وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥٓ أَنِّى مَسَّنِىَ ٱلضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ
“Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, ‘(Ya Tuhanku), sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.’”
(QS. Al-Anbiya: 83)