MENGAPA SAYA KELUAR DARI WAHDAH ISLAMIYAH?
بسم الله الرحمن الرحيم
Kami akan menyebutkan beberapa penyimpangan yang saya lihat sendiri selama menjadi santri di STIBA al-Wahdah al-Islamiyah Makassar dalam kurun waktu antara tahun (+) 2001-2005, dan tahun 2005-2007 masih ber-intisab ke WI, serta sempat mengisi beberapa taklim dan dauroh WI di Makassar dan di daerah. Berikut beberapa penyimpangan tersebut: Pertama: Kurangnya Kecemburuan kepada Manhaj yang Hak
Perkara inilah yang paling mendorong saya untuk keluar dari WI, sebab keadaan batin saya sangat sulit menerima, untuk terus bersama dan berta’awun dalam dakwah, bersama orang-orang yang menganggap ringan berteman, bermajelis, menjadikan orang-orang dari kalangan hizbiyyun, atau orang yang dikenal memiliki manhaj yang menyimpang dari Manhaj Salaf, sebagai penceramah dalam acara-acara mereka.
Meskipun sebenarnya ini bukan semata-mata permasalahan batin, akan tetapi karena perintah Allah ta’ala untuk menjauhi orang-orang yang menyimpang. Bahkan telah menjadi Ijma’ Salaf untuk menghindari orang-orang yang dikhawatirkan penyimpangannya. Allah ta’ala berfirman:
وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آَيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
“Dan apabila kamu melihat orang-orang memerolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka, sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu, sesudah teringat (akan larangan itu)”. (QS. Al-An’am: 68)
Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah menerangkan:
“Dalam ayat ini terkandung nasihat yang agung bagi mereka yang menolerir duduk bermajelis dengan al-mubtadi’ah, orang-orang yang suka mengubah-ubah perkataan Allah Subhanahu wa ta’ala, memermainkan Kitab-Nya dan Sunnah Rasul-Nya, serta mengembalikan pemahaman Alquran dan as-Sunnah kepada hawa nafsu mereka yang menyesatkan dan bid’ah mereka yang rusak.
Jadi, jika seorang tidak mampu mengingkari atau mengubah kebid’ahan mereka, paling tidak dia harus meninggalkan majelis mereka, dan tentu ini mudah baginya. Tidak susah”.
Kemudian Al-Imam Asy-Syaukani menjelaskan, di antara bahaya duduk bersama orang-orang yang menyimpang:
“Terkadang orang-orang yang menyimpang tersebut menjadikan kehadiran seseorang bersama mereka (meskipun orang tersebut bersih dari kebid’ahan yang mereka lakukan) sebagai syubhat. Dengannya mereka mengaburkan (permasalahan) atas orang-orang awam. Jadi, dalam kehadirannya (di majelis mereka), terdapat tambahan mudharat dari sekedar mendengarkan kemungkaran”. (Lihat Fathul Qodir, 2/185).
Berikut ini adalah nukilan beberapa atsar yang menunjukkan sikap para salaf dalam bermajelis dengan Ahli Bid’ah, yang dikutip dari Kitab Lamud Durril Mantsur Minal Qoulil Ma’tsur (hal. 36-37):
“Dua orang dari kalangan pengikut hawa nafsu mendatangi Ibnu Sirin seraya berkata: “Wahai Abu Bakr, bolehkah kami menyampaikan satu hadis kepadamu?”
Beliau menjawab: “Tidak. Keduanya berkata lagi: Kalau begitu kami bacakan satu ayat Alquran kepadamu?”
Beliau menjawab: “Tidak, kalian pergi dari sini atau saya yang pergi”. Lalu keduanya pun keluar.
Sebagian orang berkata: “Wahai Abu Bakr, mengapa engkau tidak mau mereka membacakan ayat Alquran kepadamu?”
Beliau menjawab: “Sungguh saya khawatir mereka bacakan kepadaku satu ayat, lalu mereka selewengkan maknanya, sehingga tertanam dalam hatiku”. [HR. Ad Darimy (1/120/no. 397)]
Sallam rahimahullah berkata: “Seorang pengikut kesesatan berkata kepada Ayyub: “Saya ingin bertanya kepadamu tentang satu kalimat?”
Maka Ayyub segera berpaling dan berkata: “Tidak, meski setengah kalimat, meski setengah kalimat” Beliau mengisyaratkan jarinya”. [HR. Ibnu Baththoh dalam Al-Ibanah (2/447 no. 402), Al-Lalika’iy dalam Syarh Ushul Al-I’tiqod (1/143/no. 291), Abdullah bin Ahmad dalam As Sunnah (1/138/no. 101), dan Ad Darimy dalam Sunan-nya (1/121 no. 398)]